Cari uang di internet

Friday, September 16, 2011

Kompendium Katekismus Gereja Katolik-SAKRAMEN PERKAWINAN & UPACARA2 LITURGI

 
http://www.vatican.va/archive/compendium_ccc/documents/archive_compendium-ccc_id.pdf
KOMPENDIUM KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

SAKRAMEN PERKAWINAN
337. Apa rencana Allah berkenaan dengan laki-laki dan perempuan?
Allah yang adalah cinta dan yang telah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk cinta telah memanggil mereka untuk mencinta. Dengan menciptakan laki-laki dan perempuan, Allah memanggil mereka kepada persatuan hidup yang intim dan cinta dalam perkawinan. "Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu" (Mat 19:6). Allah bersabda dan memberkati mereka: "Beranak-cuculah dan bertambah banyak" (Kej 1:28).

338. Untuk tujuan apa Allah menetapkan Perkawinan?
Hubungan perkawinan antara laki-laki dan perempuan, yang didasarkan dan didukung dengan hukum-hukumnya sendiri oleh sang Pencipta,menurut kodratnya bertujuan untuk persatuan dan kebaikan pasangan dan menurunkan serta mendidik anak-anak. Menurut rencana ilahi asali, persatuan perkawinan ini tak dapat diceraikan, seperti Yesus Kristus menegaskan: "Apa yang telah dipersatukan Allah,tidak boleh diceraikan manusia" (Mrk 10:9).

339. Bagaimana dosa mengancam Perkawinan?
Karena dosa asal, yang menyebabkan perpecahan persekutuan laki-laki dan perempuan yang dianugerahkan Allah, kesatuan perkawinan sangat sering terancam oleh ketidakharmonisan dan ketidaksetiaan. Tetapi, Allah dalam kerahiman-Nya yang tanpa batas memberikan kepada laki-laki dan perempuan rahmat untuk membawa kesatuan hidup mereka kedalam harmoni dengan rencana ilahi asali.

340. Apa yang diajarkan Perjanjian Lama mengenai Perkawinan?
Allah membantu umat-Nya terutama melalui ajaran Hukum dan para Nabi untuk sedikit demi sedikit mendalami pemahaman kesatuan dan ketakterceraian perkawinan. Perjanjian perkawinan antara Allah dengan Israel mempersiapkan dan melambangkan awal Perjanjian Baru yang ditetapkan oleh Yesus Kristus, Putra Allah,dengan mempelai-Nya, yaitu Gereja.

341. Unsur baru apa yang diberikan Kristus kepada Perkawinan?
Kristus tidak hanya memulihkan tujuan asali perkawinan, tetapi mengangkatnya ke dalam martabat Sakramen, memberikan kepada kedua mempelai suatu rahmat khusus untuk menghayati perkawinan mereka sebagai simbol cinta Kristus untuk mempelai-Nya, Gereja: "Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat "
(Ef 5:25).

342. Apakah semua orang harus kawin?
Perkawinan bukanlah suatu keharusan bagi setiap orang,terutama karena Allah memanggil beberapa laki-laki dan perempuan untuk mengikuti Yesus dalam hidup keperawanan atau selibat demi Kerajaan Surga. Pantangan untuk mendapatkan hal-hal yang baik dari perkawinan ini dalam rangka memusatkan diri pada urusan-urusan Allah dan berusaha menyenangkan-Nya.Mereka menjadi tanda keunggulan mutlak cinta Kristus dan penantian kembalinya kemuliaan-Nya.

343. Bagaimana upacara Sakramen Perkawinan dilaksanakan?
Karena Sakramen Perkawinan menetapkan kedua mempelai dalam sebuah
status publik kehidupan dalam Gereja, pelaksanaan liturginya bersifat publik terjadi dihadapan seorang Imam (atau seorang saksi yang diberi wewenang oleh Gereja) dan para saksi lainnya.

344. Apa kesepakatan Perkawinan itu?
Kesepakatan perkawinan diberikan ketika seorang laki-laki dan seorang
perempuan mengungkapkan kehendak untuk saling memberikan diri mereka satu sama lain dengan tujuan untuk hidup bersama dalam perjanjian cinta yang setia dan subur. Karena kesepakatan menyebabkan perkawinan terjadi, kesepakatan itu mutlak perlu dan tidak tergantikan. Agar perkawinan itu sah, persetujuan ini harus jelas-jelas mengenai perkawinan yang sungguh-sungguh dan merupakan tindakan manusia yang sadar, bebas, tanpa kekerasan dan paksaan.

345. Apa yang diperlukan jika salah satu mempelai bukan Katolik?
Perkawinan campur (antara seorang Katolik dan seorang yang dibaptis bukan Katolik) membutuhkan izin otoritas gerejawi demi layaknya. Dalam kasus disparitas kultus (antara seorang Katolik dan seorang yang tidak dibaptis) memerlukan dispensasi demi sahnya. Dalam kedua kasus itu, hal yang pokok ialah kedua belah pihak mengakui dan menerima tujuan pokok dan ciri khas perkawinan. Perlu juga ditekankan bahwa pihak Katolik menerima kewajiban, yang juga sudah diketahui
oleh pihak non-Katolik, untuk tetap menghayati imannya dan membaptis serta mendidik anak-anak mereka secara Katolik.

346. Apa buah Sakramen Perkawinan?
Sakramen Perkawinan menetapkan ikatan yang kekal dan eksklusif antara
kedua mempelai. Allah memeteraikan kesepakatan perkawinan mereka. Karena itu, perkawinan yang sudah dilaksanakan dengan sah (ratum) dan sudah dilengkapi dengan persetubuhan (consumatum) antara dua orang yang sudah dibaptis tidak pernah dapat diceraikan. Terlebih lagi, Sakramen ini memberikan rahmat yang dibutuhkan bagi kedua mempelai untuk mencapai kesucian dalam kehidupan perkawinan mereka dan jika dianugerahi anak-anak, menerima tanggung jawab untuk merawat dan mendidik mereka.

347. Dosa apa yang sungguh-sungguh bertentangan dengan Sakramen Perkawinan?
Perzinaan dan poligami bertentangan dengan Sakramen Perkawinan karena
kedua hal itu betul-betul berlawanan dengan martabat kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dan dengan kesatuan dan eksklusivitas cinta perkawinan. Dosa dosa lainnya termasuk penolakan secara sadar untuk kemungkinan mempunyai anak yang bertentangan dengan kesuburan cinta perkawinan dan keterbukaan akan anugerah anak serta perceraian yang bertentangan dengan sifat tak terceraikannya perkawinan.

348. Bilamana Gereja mengizinkan perpisahan fisik antara pasangan suami istri?
Gereja mengizinkan perpisahan fisik pasangan suami-istri jika karena alasan yang serius mereka tidak mungkin hidup bersama, walaupun mungkin ada harapan untuk rekonsiliasi. Tetapi selama salah satu dari pasangan itu masih hidup, yang lainnya tidak bebas untuk kawin lagi kecuali jika perkawinan itu batal dan dinyatakan demikian oleh otoritas Gereja.

349. Apa sikap Gereja terhadap mereka yang cerai dan kemudian kawin
lagi?
Gereja, karena setia kepada Tuhannya, tidak dapat mengakui perkawinan
orang-orang yang secara sipil bercerai dan kawin lagi.
"Barangsiapa menceraikan istrinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinaan terhadap istrinya itu. Dan jika si istri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zina" (Mrk 10:11-12).
Gereja benar-benar menunjukkan keprihatinan yang dalam terhadap orang-orang itu, dan menganjurkan mereka hidup dalam iman, doa, beramal, dan memberikan pendidikan Kristiani bagi anak-anak mereka. Tetapi, mereka tidak dapat menerima absolusi Sakramental, menerima Komuni Kudus, atau mengemban tanggung jawab gerejawi tertentu selama situasi mereka tidak berubah karena secara objektif bertentangan dengan perintah Allah.

350. Mengapa keluarga Kristen disebut Gereja domestik?
Keluarga Kristen disebut Gereja domestik karena keluarga menampilkan dan menghayati kodrat keluarga dan komunal Gereja sebagai keluarga Allah. Setiap anggota keluarga, sesuai dengan peranannya masing-masing, melaksanakan imamat baptisan dan memberikan sumbangan untuk menjadikan sebuah keluarga itu suatu komunitas rahmat dan doa, sebuah sekolah keutamaan manusiawi dan Kristiani dan merupakan tempat iman pertama kali diwartakan kepada anak-anak.

BAB EMPAT
UPACARA-UPACARA LITURGI LAINNYA

SAKRAMENTALI
351. Apa itu Sakramentali?
Sakamentali adalah tanda-tanda suci yang ditetapkan oleh Gereja untuk
menguduskan macam-macam situasi kehidupan. Disini, termasuk doa yang diiringi dengan tanda salib dan tanda-tanda lainnya. Diantara Sakramentali yang penting ialah: pemberkatan-pemberkatan yang merupakan pujian kepada Allah dan doa untuk memperoleh karunia-Nya, pemberkatan seseorang dan barang-barang bagi ibadah kepada Allah.

352. Apa itu pengusiran setan?
Bilamana Gereja meminta dengan otoritasnya dalam nama Yesus bahwa seseorang atau objek tertentu dilindungi terhadap kuasa si Jahat dan membebaskannya dari cengkeraman si Jahat, maka hal itu disebut dengan pengusiran setan (exorcisme).Dalam bentuk biasa, hal ini dilaksanakan dalam ritus Sakramen Pembaptisan.
Exorcisme Meriah dapat dilaksanakan hanya oleh seorang Imam yang diberi wewenang oleh Uskup.

353. Bentuk-bentuk kesalehan populer apa yang mengiringi hidup Sakramental Gereja?
Cita rasa religius umat Kristen selalu terungkap dalam bermacam-macam bentuk kesalehan yang mengiringi hidup Sakramental Gereja, misalnya penghormatan terhadap relikwi, kunjungan terhadap tampat-tempat suci, ziarah, prosesi, jalan salib, dan rosario. Gereja dengan terang iman mendukung bentuk-bentuk autentik kesalehan populer ini.

PEMAKAMAN KRISTEN
354. Apa hubungan antara Sakramen-Sakramen dan kematian seorang Kristen?
Seorang Kristen yang meninggal dalam Kristus, pada akhir eksistensinya
didunia ini, mencapai kepenuhan kehidupan baru yang sudah dimulai dalam Sakramen Pembaptisan, diperkuat dalam Sakramen Penguatan, dan diberi makan dalam Ekaristi, sebagai antisipasi dari perjamuan surgawi. Makna kematian seorang Kristen menjadi jelas dalam terang wafat dan kebangkitan Kristus, satu-satunya harapan kita.
Orang Kristen yang meninggal dalam Kristus Yesus pergi "beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan" (2Kor 5:8).

355. Apa yang diungkapkan oleh ritus pemakaman?
Walaupun dilaksanakan dalam bermacam-macam ritus yang berbeda sesuai
dengan situasi dan tradisi macam-macam daerah, pemakaman mengungkapkan
ciri khas pascakematian Kristen dalam pengharapan akan kebangkitan. Pemakaman juga menampilkan arti persekutuan dengan orang-orang yang sudah meninggal secara khusus melalui doa untuk pemurnian jiwa-jiwa mereka.

356. Apa momen-momen utama dalam pemakaman?
Biasanya, ritus pemakaman terdiri dari empat bagian utama: penyambutan
jenazah oleh jemaat dengan kata-kata penghiburan dan pengharapan, liturgi Sabda, Ekaristi, dan perpisahan yang antara lain berisi penyerahan jiwa orang yang meninggal ke dalam tangan Allah, Sumber kehidupan kekal, sementara jenazah dimakamkan dengan harapan akan kebangkitan.

No comments: