Cari uang di internet

Sunday, June 12, 2016

"GIVE AND GIVE, NOT TAKE AND GIVE"

Pada jaman Tiongkok Kuno, ada seorang petani mempunyai seorang tetangga yang berprofesi sebagai pemburu dan mempunyai anjing-anjing galak.

Anjing-anjing itu sering melompati pagar dan mengejar domba-domba petani. Petani itu meminta tetangganya untuk menjaga anjing-anjingnya, tapi ia tidak mau peduli.

Suatu hari anjing-anjing itu melompati pagar dan menyerang beberapa domba, sehingga terluka parah. Petani itu merasa tak sabar, dan memutuskan untuk pergi ke kota untuk berkonsultasi pada seorang hakim.

Hakim itu mendengarkan cerita petani itu dan berkata; "Saya bisa saja menghukum pemburu itu, memerintahkan dia untuk merantai dan mengurung anjing-anjingnya, tapi Anda akan kehilangan seorang sahabat dan mendapatkan seorang musuh. Mana yang kau inginkan, sahabat atau musuh yang jadi tetanggamu?"

Petani itu menjawab bahwa ia lebih suka mempunyai seorang Sahabat.

"Baik, saya akan menawari anda sebuah solusi yang mana anda harus menjaga domba-domba anda, supaya tetap aman dan ini akan membuat tetangga anda tetap sebagai teman".

Mendengar solusi pak hakim, petani itu setuju.Ketika sampai di rumah, petani itu segera melaksanakan solusi pak hakim. Dia mengambil tiga domba terbaiknya dan menghadiahkannya kepada 3 anak tetangganya itu, yang mana mereka menerima dengan sukacita dan mulai bermain dengan domba-domba tersebut.

Untuk menjaga mainan baru anaknya, si pemburu itu mengkerangkeng anjing pemburunya.Sejak saat itu anjing-anjing itu tidak pernah mengganggu domba-domba pak tani.

Sebagai rasa terima kasih atas kedermawanan petani kepada anak-anaknya, pemburu itu sering membagi hasil buruan kepada petani.
Sebagai balasannya, petani mengirimkan daging domba dan keju buatannya.

Dalam waktu singkat tetangga itu menjadi Sahabat yang baik.

Jika Anda berkumpul dengan serigala, Anda akan belajar melolong.

Tapi jika Anda bergaul dengan Rajawali, Anda akan belajar cara terbang mencapai ketinggian yang luar biasa.

Kenyataan yang sederhana tetapi benar, bahwa Anda menjadi seperti orang yang bergaul dekat dengan Anda.

Karena itu, carilah Sahabat SEJATI.

Anda boleh memiliki segala-galanya, namun hidup tidak akan bahagia tanpa sahabat sejati.....!!!

Persahabatan tidak ada sangkut pautnya dengan harta, jabatan dan popularitas.

Persahabatan yang di dapat dari uang, pangkat dan ketenaran bukan persahabatan sejati, melainkan hanya pergaulan dangkal yang penuh kepalsuan, yang egois, materialis, munafik dan penuh kebohongan.

Persahabatan sejati lahir dari kasih, ketulusan, kepercayaan, kejujuran, kesetiaan dan kebersamaan.

Itu sebabnya persahabatan itu indah, tidak dapat di nilai dengan harta benda, tidak dapat di perjual-belikan.

Sudahkah Anda memiliki persahabatan sejati dalam hidup ini?

Apa sesugguhnya arti dari sahabat ?
Sahabat adalah orang yang selalu ada di dekat kita. Orang yang menangis dan tertawa bersama dengan kita.

Orang yang tidak menjauhi kita saat kesulitan datang dalam hidup kita. orang yang selalu siaga 24 jam saat kita membutuhkan teman.
Lebih dari itu sahabat sebenarnya adalah orang yang bisa melihat dan menegur kita serta berbicara dari hati ke hati.

Sebuah ungkapan Tiongkok Kuno mengatakan :  "CARA TERBAIK UNTUK MENGALAHKAN DAN MEMPENGARUHI ORANG ADALAH DENGAN KEBAJIKAN",  "GIVE AND GIVE, NOT TAKE AND GIVE." ...... 👌👌👌🙏🙏🙏‎

Dari grup WA

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Monday, June 06, 2016

Post-sekularisme (F BUDI HARDIMAN)

Apakah Eropa sedang pulang ke agama? Pertanyaan ini menarik, tidak hanya untuk ilmu politik internasional, tetapi terlebih untuk filsafat politis kontemporer. Rentetan aksi teror Negara Islam Irak dan Suriah dan gelombang pengungsi Suriah ke pusat-pusat peradaban Eropa tidak hanya menyibukkan para politikus dan menggelisahkan warga masyarakat. 

Tragedi-tragedi kemanusiaan itu juga ikut mengubah lanskap intelektual di negara-negara yang selama ini dikenal sebagai negara-negara sekuler. Konstelasi intelektual baru itu bernama post-sekularisme.

Apa itu post-sekularisme? Bagaimana kita merespons "isme" yang masih relatif baru ini?

Gugurnya tesis sekularisasi

Meski sekarang telah menjadi istilah umum, sekularisasi, sekularitas, dan sekularisme memiliki asal-usulnya yang sangat spesifik dalam gereja Katolik Roma. Kata saeculum berarti zaman. Di Abad Pertengahan, sekularisasi diartikan sebagai proses seorang rahib meninggalkan biaranya dan kembali ke masyarakat. Kata itu pada masa Reformasi dipakai untuk proses pengalihan aset gereja Katolik ke pihak Protestan. Menjadi sekular berarti juga menjauh dari institusi religius.

Sejak perjanjian Westphalia yang mengakhiri Perang Tiga Puluh Tahun antara Katolik dan Protestan, sekularisasi menjadi istilah politis, yang berarti pemisahan gereja dari negara. Istilah politis itulah yang kemudian kita kenal sampai hari ini sebagai pemisahan antara agama dan politik. Regulasi-regulasi publik harus dijauhkan dari simbol-simbol dan alasan-alasan religius, dan negara harus netral dari doktrin-doktrin religius agar terwujud keadilan bagi semua pihak.

Sekularitas politis hanyalah salah satu arti. Dalam A Secular Age, Charles Taylor menambahkan tiga arti lainnya. Sekularitas sosiologis adalah menghilangnya iman dan praktik religius, sedangkan sekularitas epistemis adalah hidup dalam immanent frame atau kondisi percaya kepada Allah hanyalah salah satu opsi. Semua mengacu juga pada sekularitas spasio-temporal, yakni orientasi kita pada zaman ini, padasaeculum. Di sini jelas bahwa sekularitas Eropa bukan sekadar struktur politis, melainkan sebuah Weltanschauung(wawasan dunia). Orang modern melakukan hal-hal etsi Deus non daretur(seakan Allah tidak ada). Telah terjadi apa yang disebut Weber disenchantment of the world: Dunia tidak lagi berisi hal-hal gaib.

Hampir semua negara demokratis di dunia saat ini menganut sekularisme politis dengan kadar yang berbeda-beda. Prancis dengan laicite dan Turki denganlaiklik berada di baris depan. Sisanya adalah varian-varian. Sekularisme politis telah mengalami globalisasi. Namun, hal itu belum mengatakan apa pun tentang kesadaran religius. Sampai tahun 1980-an, para intelektual Barat masih meyakini suatu anggapan bahwa lewat modernisasi dan rasionalisasi, agama akan punah dan masyarakat akan sepenuhnya sekular.

Anggapan yang kemudian dikenal sebagai tesis sekularisasi ini dianut sejak abad-abad silam di Eropa. Pemikir-pemikir utama Eropa, seperti Comte, Feuerbach, Marx, dan Freud, menganggap agama sebagai semacam ilusi kolektif yang akan ditinggalkan ketika sains, teknologi, dan rasionalitas sekular mendominasi masyarakat. Tesis itu tidak pernah terbukti, malah terbukti gugur.

Alih-alih punah, memasuki abad ke-21 agama mengalami kebangkitan dan menjadi faktor yang menentukan dalam politik kontemporer. Diguncang isu terorisme dan pengungsi Suriah, Eropa tidak lagi diam soal agama. Popularitas kekuatan ekstrem kanan yang anti migran meningkat tajam. Persepsi kawan-lawan yang dikaitkan dengan agama mulai tumbuh. Semua berarti satu hal: agama kembali menjadi isu publik yang perlu dikalkulasi. Dunia ini tidak sepenuhnya sekular, melainkan sekular sekaligus religius.

Kembalinya agama

Sejak awal abad ke-21 ini, istilah post-sekularisme mulai masuk literatur filsafat dan forum-forum akademis di Eropa. Sungguhpun demikian, belum ada definisi yang bisa disepakati tentangnya. Seperti istilah yang nyaris menjadi kembarannya, post-modernisme, istilah tersebut mengacu kompleksitas baru seusai Perang Dingin, tetapi di sini fokusnya diberikan pada konstelasi baru hubungan antara agama dan sekularitas di Eropa. Namun, seperti juga sekularisme, post-sekularisme lebih daripada sekadar fenomena politis. Ada juga aspek sosiologis, teologis, dan filosofis di dalamnya.

Seperti diulas WA Barbieri, menguatnya kembali peran publik agama hanyalah salah satu gejala post-sekular. Kebangkitan global agama, termasuk Islam di Amerika dan Kekristenan di Tiongkok dan Rusia, menguatkan kembali orientasi pada hal-hal supranatural, suatu proses sosiologis yang boleh disebut re-enchanment of the world.Post-sekularisme juga dapat ditunjukkan lewat suburnya literatur kontemporer yang berupaya untuk memberikan pendasaran teologis kembali agar iman dapat diyakini kembali dalam sekularitas, sebagaimana tampak dalam kritik-kritik para teolog Kristiani atas Pencerahan.

Di rumah filsafat, post-sekularisme tampak dalam menguatnya minat kembali pada agama, Allah, Alkitab, seperti dapat ditemukan pada Caputo, Levinas, dan Jean-Luc Marion. Kearny, misalnya, mencari "faith beyond faith" atau "God after God".

Kehangatan diskusi tentang post-sekularisme ini juga mendorong para pemikir Eropa untuk menemukan kembali akar-akar religius sekularitas Eropa. Carl Schmitt dengan teologi politisnya dan diskusi hangat antara Habermas dan Kardinal Ratzinger di Muenchen tahun 2004 banyak memicu analisis genealogis ini, misalnya, untuk menunjukkan bagaimana negara hukum sekular dan hak-hak asasi manusia mengandung presuposisi-presuposisi teologis Kristiani. Post-sekularisme bahkan menjadi kritik atas proses marginalisasi yang dialami oleh agama lewat oposisi biner sekular-religius yang disebarkan lewat berbagai literatur dan forum pasca Pencerahan. Talal Asad, misalnya, mencurigai oposisi sekular-religius sebagai konstruksi Barat untuk mengokohkan dominasinya. Post-sekularisme lalu disambut bagaikan pembebas baru, tetapi kali ini oleh dan untuk agama.

Cukup ironis bahwa "agama" di sini tidak kurang daripada hasil konstruksi sekularisme juga sehingga libido kekuasaan—kali ini berbusana teologi—tetap operasional di dalamnya. Eropa tidak kembali ke agama dan menjadi religius. Ia mungkin menemukan ungkapan baru bagi gairah kekuasaannya.

Post-sekularisme di Indonesia?

Indonesia belum post-sekular karena belum sekular. Namun, komentar seperti itu keliru. Tidak ada sejarah universal bertahap yang dipimpin Barat. Globalisasi sekularisme tidak menghasilkan sekularisme global, melainkan multiple secularisms. Di Indonesia, agama tidak harus kembali karena tidak pernah pergi. Di negeri ini ada terlalu banyak hal yang dikaitkan dengan agama, dan terlalu sedikit hal yang berjarak darinya. Kata "sekularisme" pun terdengar porno di negeri saleh ini sehingga sempat didaftarhitamkan. Sebaliknya, post-sekularisme mungkin akan disambut hangat. Namun, di sini kita justru perlu waspada.

Post-sekularisme Eropa mengandaikan sekularisme politis yang matang sehingga prosedur negara hukum demokratis tetap menjadi platform dialog agama dan sekularitas. Menurut Habermas, di sini agama pun ditransformasikan menjadi lebih "rasional". Inti post-sekularisme sebenarnya proses belajar antara agama dan sekularitas dalam masyarakat majemuk. Karena itu, dalam masyarakat serba-agama, seperti Indonesia, tidaklah tepat memahami post-sekularisme sebagai penguatan kembali peran publik agama karena agama sudah terlalu kuat di sana. Jika di Barat sekularitas ditantang untuk belajar mendengarkan agama kembali, di Indonesia justru sebaliknya: Agama ditantang untuk belajar dari sekularitas agar tidak menyepelekan kemanusiaan.

Proses saling belajar agama dan sekularitas itu tidak asing bagi kita sebab telah tercantum dalam Pancasila. Bukankah hanya sila pertama bicara tentang agama, sedangkan keempat lainnya tentang sekularitas? Indonesia dikonsepkan sebagai negara modern yang tidak serong ke negara agama, tetapi juga bukan negara sekular. Tanpa gaduh dengan post-sekularisme, Indonesia sebenarnya post-sekular, sekurangnya dalam cetak-birunya.

F BUDI HARDIMAN, PENGAJAR FILSAFAT POLITIK DI STF DRIYARKARA

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 7 Juni 2016, di halaman 6 dengan judul "Post-sekularisme".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tuesday, May 24, 2016

Sains-Teknik Vs Sosial-Humaniora (EDWARD THEODORUS)

Ada kejanggalan pada alur penalaran para petinggi pemerintah dan organisasi profesi di Indonesia terkait fenomena kurangnya tenaga kerja di bidang sains-teknik.

Pada Kompas edisi 18 Mei 2016 halaman 12 disebutkan bahwa Direktur Eksekutif Persatuan Insinyur Indonesia mengeluhkan Indonesia kekurangan insinyur. Presiden dan Menristek Dikti mengatakan hal serupa dan berniat mengurangi proporsi maha- siswa sosial-humaniora guna memberikan ruang lebih luas bagi mahasiswa sains-teknik.

Indonesia menghasilkan sekitar 50.000 insinyur setiap tahun, tetapi kekurangan sekitar 10.000 insinyur setiap tahun. Data lain menyebutkan, saat ini ada sekitar 800.000 lulusan sains-teknik, tetapi hanya 45 persen atau 360.000-an lulusan sains-teknik yang bekerja di bidangnya.

Menarik mencermati cara pandang para petinggi. Para petinggi menganggap akar masalah kurangnya tenaga kerja sains- teknik adalah orientasi pendidikan tinggi lebih condong ke sosial-humaniora daripada ke sains-teknik. Coba kita bandingkan jumlah kekurangan insinyur dengan jumlah insinyur yang tak bekerja di bidangnya. Untuk memenuhi jumlah kekurangan insinyur, adalah lebih sangkil dan mangkus menggugah para insinyur yang tak bekerja di bidangnya kembali ke jalan yang benar: bidang studi yang dipelajarinya ketika kuliah daripada mengubah orientasi perguruan tinggi menghasilkan lebih banyak lulusan sains-teknik.

Lalu, mengapa para petinggi mengotot ingin "menyadarkan" dunia pendidikan untuk menambah lulusan sains-teknik dan mengurangi proporsi lulusan sosial-humaniora? Tampaknya ada yang tak sinkron antara pemahaman akan fenomena sosial, analisis akar masalah, dan pilihan kebijakan yang dibuat untuk menanganinya.

Penelitian kebijakan

Jabatan tinggi merupakan jabatan politis. Sudah umum, kebijakan politis lebih condong berbasis pada hitung-hitungan politis, opini instan, dan gejolak di masyarakat daripada berbasis pada pengetahuan sosial-humaniora dan akal sehat. Impian kebijakan politis adalah efek kereta musik, yaitu mengikuti arus dan keinginan orang banyak, tanpa perlu mempertimbangkan apakah keinginan orang banyak itu berdasarkan pertimbangan arif dan manusiawi ataukah tidak.

Pemerintah Jerman mulai berbenah melandaskan kebijakan-kebijakan politisnya pada dialog strategis dan penelitian sosial-humaniora. Misalnya, Kementerian Pendidikan Jerman melihat bahwa kebijakan pendidikan tak hanya berdampak pada industri dan pemerintah, tetapi juga pada institusi pendidikan dan masyarakat umum sehingga mereka mengembangkan mekanisme dialog strategis di antara keempat pihak itu. Pengembangan itu terus dipantau dengan penelitian kebijakan, salah satu jenis penelitian sosial-humaniora.

Orientasi pemerintah Jerman lebih pada melakukan penyelarasan di antara keempat pihak itu, bukan pada pilihan untuk lebih mengutamakan kepentingan pihak mana. Ada juga hasrat belajar membuat kebijakan berbasis alur penalaran yang runtut, sistematis, antisipatif, berorientasi jangka panjang.

Pemerintah kita perlu belajar dari Pemerintah Jerman dalam hal kebijakan pendidikan. Jerman terkenal dengan lulusan yang sangat ahli dan kompeten dalam sains-teknik. Namun, jangan lupa, Jerman juga menghasilkan sarjana sosial-humaniora yang sangat mumpuni. Bahkan, banyak tokoh kunci perintis sosial-humaniora berasal dari Jerman: Sigmund Freud, Wilhelm Wundt, Alexander von Humboldt, Ludwig Wittgenstein, Max Weber, Marianne Weber, dan Hannah Arendt, untuk menamai beberapa.

Kasus negara Jerman menunjukkan kepada kita bahwa untuk menghasilkan lulusan sains-teknik yang memadai, tak perlu menggeser orientasi pendidikan atau mengurangi proporsi mahasiswa di bidang lain. Kepentingan industri dan pemerintah perlu diselaraskan dengan kepentingan dunia pendidikan dan cita-cita masyarakat umum. Pada konteks Indonesia, kepentingan masyarakat umum tecermin dari cita-cita para pendiri bangsa. Karena itu, pemerintah perlu merenungkan kebijakannya apakah sudah menyelaraskan kepentingan pihak industri dengan cita-cita pendiri bangsa, atau lebih mengutamakan kepentingan industri dan kebutuhan pasar.

Dengan demikian, ada dua masalah dalam polemik sains- teknik versus sosial-humaniora saat ini. Pertama, ada kejanggalan dalam alur penalaran para pembuat kebijakan. Kedua, sistem pendidikan kita terancam bahaya laten industrialisasi dan komersialisasi yang merupakan salah satu kekhawatiran para pendiri bangsa.

Solusinya tiga. Pertama, sebaiknya pemerintah dan pejabat tinggi meningkatkan keterampilannya dalam penalaran yang runtut, sistematis, rasional, sekaligus manusiawi. Mereka perlu belajar melandaskan kebijakannya pada perkembangan ilmu sosial-humaniora. Kedua, lebih baik menemukan cara mengembalikan para insinyur yang tak bekerja di bidangnya ke "jalan yang benar" daripada "mengalihkan jalan" para mahasiswa di bidang ilmu selain sains-teknik.

Ketiga, perguruan tinggi sebaiknya lebih memusatkan perhatian pada perjuangan menghasilkan lulusan yang memanusiakan manusia, bekerja sesuai dengan disiplin ilmu yang merupakan bakat dan minatnya, serta berkontribusi terhadap pemenuhan cita-cita para pendiri bangsa Indonesia. Hentikan adu domba antara sains-teknik dan sosial-humaniora karena keduanya setara dan sama-sama dibutuhkan bangsa ini.

EDWARD THEODORUS, DOSEN PSIKOLOGI DI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 25 Mei 2016, di halaman 6 dengan judul "Sains-Teknik Vs Sosial-Humaniora".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Thursday, March 24, 2016

Menghadirkan gagasan Heidegger (M. Sunyoto)

Buku karya Martin Heidegger berjudul asli "Sein und Zeit" atau dalam Bahasa Inggris "Being and Time" yang diindonesiakan menjadi "Ada dan Waktu" (istimewa)

Ketenaran Martin Heidegger di kalangan pembaca buku-buku filsafat tak disangsikan lagi.

Bukunya yang masyhur, "Ada dan Waktu" yang ditulis dalam bahasa Jerman sebagai "Sein und Zeit" atau "Being and Time" dalam versi Inggrisnya, dinilai sebagai hasil pemikiran orisinal dalam jagat sejarah ide-ide filsafat.

Namun, semua penelaahnya, dari masa ke masa, seraya mengagumi orisinalitas yang diusungnya, juga mengakui kompleksitas dan kesulitan untuk memahaminya.

Bahkan filsuf eksistensialis Prancis Jean Paul Sartre yang merespons pikiran-pikiran itu dinilai oleh Heidegger bahwa Sartre tak tepat dalam menafsirkan gagasan-gagasan filosofisnya.

Untuk memperkenalkan ide-ide Heidegger yang kontroversial karena kaitannya dengan penguasa Nazi itu kepada khalayak di Tanah Air, Dr. F. Budi Hardiman, alumnus Hochschule fur Philosophie Munchen Germany, menulis buku bertajuk "Heidegger dan Mistik Kehidupan", yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia, edisi Februari 2016, setebal 214 halaman.

Oleh penulisnya, buku yang ditulis di tengah kesibukannya sebagai dosen di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara itu dimaksudkan sebagai semacam buku pengantar untuk memahami karya monumental Heidegger "Ada dan Waktu".

Bagi pembaca yang awam terhadap risalah filsafat, apa yang disebut dalam konsep "ada" barangkali sudah membuatnya bingung atau tak berselera untuk menyimaknya. Konsep itu dipakai oleh Heidegger untuk mengupas problem mendasar dalam kehidupan dengan mengangkat pertanyaan: mengapa manusia atau segala sesuatu di jagat raya ini ada? Apa makna keberadaan semua itu? Mengapa keberadaan itu terbatasi oleh waktu?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu sudah disediakan oleh agama dan belakangan oleh sains. Pendekatan filsafat, agama dan sains menjadi khasanah kekayaan pengetahuan dan rohani manusia. Masing-masing punya kekuatannya sendiri-sendiri. Jawaban filsafat sangat spekulatif, jawaban agama dilandasi oleh iman dan jawaban sains berpatokan pada bukti-bukti empiris.

Heidegger mengajak pembacanya untuk merenungkan makna keberadaan di dunia ini dengan merenung secara serius. Bagi Heidegger, manusia perlu merenungkan hidupnya yang harus berhadapan dengan persoalan keseharian.

Untuk memudahkan memahami pikiran Heidegger, Budi Hardiman yang juga bergulat dalam filsafat humanisme itu memberikan penjelasan bahwa konsep "ada" merujuk pada semua kenyataan, fenomen berupa perasaan, pikiran, peristiwa dan benda-benda di jagat raya ini. Ilmu untuk menelaah segala yang ada itu dikenal sebagai fenomenologi. Di ranah fenomelogi inilah pikiran-pikiran filsafati Heidegger bertebaran.

Keberadaan manusia tentu merupakan bagian dari "ada", "mengada" dan bereksistensi. Dan di sinilah problem eksistensial yang menjadi lahan renungan Heidegger.


Menurut Heidegger, keberadaan manusia merupakan keterlemparan eksistensial. Artinya, manusia sejak awal dipaksa menerima nasibnya bahwa dia harus pasrah menerima nasib yang tak bisa dikalkulasikan sebelumnya.

Tentu berdasarkan akal dan pengalaman, konsekuensi-konsekuensi nasib di masa depan bisa dikira-kira namun perkiraan itu tak bisa menolong untuk memecahkan masalah takdir eksistensial.

Manusia tetaplah tak kuasa melawan kekurangan yang melekat dalam takdirnya. Dia tak kuasa membebaskan diri dari kecemasan, kegelisahan dan ketaksempurnaan dirinya.

Bagi peletak dasar filsafat eksistensialisme itu, manusia juga tak bisa melawan takdirnya untuk menjalani kehidupan keseharian yang melenyapkan kesadarannya untuk berpikir otentik.

Rutinitas keseharian menelikung manusia hidup dalam kepalsuan. Sebagai contoh, pilihan-pilihan hidup manusia bukan didasarkan atas pertimbangan atau alasan yang bermakna. Tapi alasan banal yang vulgar. Sebagai contoh, orang yang berlomba-lomba mewujudkan mimpi menjadi pesohor bukan karena di sanalah dia bisa memberikan makna dalam hidupnya tapi semata-mata karena alasan ketersohoran itu sendiri, terlepas apakah di dunia itu kelak dia akan terjerembab pada kehidupan hedonistis, penuh kepalsuan, dan destruktif.

Namun, di saat-saat tertentu, setiap orang, menurut guru cendikiawan Hannah Arendt itu, bereksistensi sebagai sosok yang otentik. Hidup yang otentik itu dialami oleh setiap orang ketika dia mengambil keputusan penting dalam hidupnya.

Tak jarang, manusia pun terperangkap dalam ironi, yakni mengalami eksistensi yang otentik ketika sedang memutuskan pilihan penting dalam hidupnya namun pilihan itu melemparkannya ke dalam dunia yang palsu.

Untuk membebaskan diri dari kepalsuan, dari rutinitas keseharian, Heidegger mengajak individu untuk menarik diri dari keramaian, menyendiri dan merenungkan makna hidupnya dengan intens.

Tentu untuk menjadi otentik dalam bereksistensi, menarik diri dari keramaian bukan jalan satu-satunya. Sebab seseorang bisa menjadi otentik dengan melibatkan diri dalam kebersamaan, dalam pilihan sadarnya untuk menyatakan solidaritasnya pada masyarakat.

Itulah sebagian pokok pikiran tentang eksistensi atau keberadaan menurut Heidegger yang belajar di Universitas Freiburg di bawah guru filsafatnya, Edmund Husserl, salah satu penggagas fenomenologi.

Sedangkan konsep tentang waktu, Heidegger menciptakan istilah-istilah yang bahkan untuk orang Jerman sendiripun sulit memahaminya seperti istilah "Innerzeitigkeit", yang tak ada dalam kamus bahasa Jerman.

Uraian Heidegger tentang waktu begitu pelik, namun Budi Hardiman mengupayakan sejumlah parafrasa yang diharapkan dapat ditangkap oleh pembaca umum.

Salah satu uraian itu adalah soal waktu masa depan. Di situ dijelaskan bahwa masa depan adalah kematian yang datang menghampiri. Artinya, manusia akan menghadapi keniscayaan yang menjadi konsekuensi dari keberadaannya.

Uraian itu bermuara pada konklusi bahwa hanya karena manusia bisa mati maka hidup mempunyai makna dan akan ada waktu untuk mengisi hidup. Andaikan manusia tak dapat mati, hidup kehilangan maknanya.

Buku karya F. Budi Hardiman ini tentu hanya sebatas untuk mengantar pembaca yang berminat menyimak pikiran-pikiran Heidegger. Tentu akan lebih afdol jika telaah terhadap pikiran-pikiran fenomenologis itu dilanjutkan dengan membaca langsung karya-karya Heidegger sendiri.

Sumber: ‎http://m.antaranews.com/berita/551577/menghadirkan-gagasan-heidegger 

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tuesday, March 22, 2016

KALIMAT PENYEJUK HATI (nasehat bijaksana)

1. Jika kita memelihara kebencian dan dendam, maka seluruh waktu dan pikiran yang kita miliki akan habis begitu saja. Kita tidak akan pernah menjadi orang yang produktif.

2. Kekurangan orang lain
adalah ladang pahala bagi kita untuk :
- memaafkannya,
- mendoakannya,
- memperbaikinya dan
- menjaga aibnya.

3. Bukan gelar dan jabatan yang menjadikan orang menjadi mulia. Jika kualitas pribadi kita buruk, semua itu hanyalah topeng tanpa wajah.

4. Ciri seorang pemimpin yang baik akan tampak dari :
- kematangan pribadi,
- buah karya dan
- integrasi antara kata dan perbuatannya.

5. Jangan pernah menyuruh orang lain untuk berbuat baik sebelum menyuruh diri sendiri. Awali segala sesuatunya untuk
kebaikan diri kita.

6. Para pembohong akan dipenjara oleh kebohongannya sendiri. Orang yang jujur akan menikmati kemerdekaan dalam hidupnya.

7. Bila memiliki banyak harta, maka kitalah yang akan menjaga harta. Namun jika kita memiliki banyak ilmu, maka ilmu lah yang akan menjaga kita.

8. Bekerja keras adalah kontribusi fisik. 
Bekerja cerdas adalah kontribusi otak. 
Bekerja ikhlas adalah kontribusi hati.

9. Jadikanlah setiap kritik bahkan penghinaan yang kita terima sebagai jalan untuk memperbaiki diri.

10. Kita tidak pernah tahu kapan kematian akan menjemput kita, tapi kita tahu persis seberapa banyak bekal yang kita miliki untuk menghadapinya.‎
Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Sunday, March 13, 2016

Senjakala Humaniora (FADLY RAHMAN)

Kabar tak sedap datang dari Jepang. Sebagaimana dilansir www.timeshighereducation.com bahwa pada September 2015 Pemerintah Jepang memerintahkan universitas-universitas di sana menutup fakultas-fakultas ilmu sosial dan humaniora.
DIDIE SW

Dari 60 universitas nasional, 26 di antaranya telah mengonfirmasi akan menutup atau menimbang kembali perintah pemerintah itu. Perintah yang merupakan bagian dari upaya Perdana Menteri Shinzo Abe itu dimaksudkan untuk mempromosikan lebih banyak pendidikan kejuruan "yang lebih baik" dalam mengantisipasi "kebutuhan-kebutuhan masyarakat".

Patut disayangkan, kemajuan Jepang yang sejak akhir abad ke-19 dipupuk dengan nilai-nilai luhur filosofi, sejarah, dan budayanya perlahan-lahan kini terkikis ketika-khususnya-humaniora sebagai pengontrol laju modernitas telah dianggap malafungsi. Tampaknya di tengah arus kecanggihan, kecepatan, dan keinstanan teknologi, posisi humaniora perlahan-lahan terpinggirkan oleh kebutuhan ekonomi dan industri pasar yang mengatasnamakan "kebutuhan masyarakat". Lalu, apakah kini humaniora benar-benar tengah menjelang senjakalanya?

Humaniora, humanisme

Gejala senjakala humaniora sebenarnya sudah digelisahkan sejak beberapa tahun lalu. Bukan hanya di Jepang, gejala itu bersifat global sebagaimana diramalkan Terry Eagleton dalam tulisannya, The Death of Universities (2010).

Menurut Eagleton, jika disiplin humaniora tersingkir dari universitas, maka tidak mungkin universitas bisa berdiri tanpanya. Dan, ketika ilmu sejarah, arkeologi, antropologi, filsafat, linguistik, sastra, dan seni menjadi tak lebih dari sekadar "artefak pengetahuan" belaka, maka jelas ini telah mengingkari landasan historis dan filosofis universitas itu sendiri yang sejak abad ke-18 tak bisa dipisahkan dari peran penting disiplin ilmu-ilmu kemanusiaan, humane disciplines.

Ketika Revolusi Industri bergeliat pada abad ke-18, saat itu lembaga-lembaga universitas di Eropa mengembangkan humaniora modern sebagai disiplin untuk mengimbangi laju kapitalisme dan modernisme. Posisi dan fungsinya tidak lain untuk menjaga nilai-nilai dan ide-ide kemanusiaan demi mewujudkan harmonisasi kehidupan.

Meski merupakan disiplin ilmu tersendiri, baik secara eksplisit maupun implisit, humaniora memiliki relasi sinergis dengan disiplin ilmu lainnya. Relasi itu menciptakan gagasan-gagasan humanistis semisal ekonomi kerakyatan, penegakan hukum yang berkeadilan, pelayanan kesehatan yang manusiawi, dan kewajiban memberikan pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Bahkan, sinergi itu tak berarti harus dimulai di bangku universitas, melainkan sudah dirintis sejak di bangku sekolah. Misalnya, di beberapa negara Eropa (Jerman, Perancis, Belanda, dan Rusia), Amerika Serikat, dan Asia (Jepang, Tiongkok, Malaysia, dan Thailand), siswa-siswa diwajibkan membaca buku-buku sastra. Membaca sastra artinya menangkap pesan-pesan kemanusiaan yang dapat membentuk karakter moral para siswa. Dengan begitu, sikap jujur, adil, rasa welas asih, empati, toleran, serta berkesadaran dalam menjaga keharmonisan hidup manusia dengan alam bakal terus terpatri dalam jiwanya.   

Maka, sinergi antara humaniora dengan disiplin ilmu lainnya diharapkan dapat menjadi kontrol untuk mengarahkan berbagai aspek kehidupan menjadi lebih manusiawi. Perjalanan humaniora sendiri seiring sejalan dengan kehadiran sosok-sosok humanis dalam sejarah peradaban yang menghendaki kebaikan hidup bagi umat manusia.

Tengok saja beberapa contoh sosok, seperti Gandhi (India), sarjana hukum yang terpanggil jiwanya untuk membela dan membebaskan rakyat India dari penindasan kolonialisme Inggris. Dalam bidang kedokteran, nama seperti Jose Rizal (Filipina), Sun Yat-sen (Tiongkok), dan Che Guevara (Kuba) mendedikasikan tanpa pamrih ilmu medisnya untuk menyembuhkan jiwa raga saudara-saudara sebangsanya yang tertindas.

Dalam bidang sosial keagamaan, ada Bunda Theresa yang menjadi sosok penerang hidup bagi kaum papa di Calcutta, India. Dalam bidang ekonomi, ada Muhammad Yunus yang berupaya mengembangkan ekonomi mikro dengan mendirikan Bank Grameen untuk memajukan para usahawan miskin di Banglades.    

Terlepas apakah posisi humaniora memberi pengaruh secara langsung atau tidak langsung, kiprah hidup sosok-sosok di atas tidak bisa dilepaskan dari pengalaman pendidikan atau bacaan pengetahuannya terhadap sejarah, filsafat, sastra, budaya, dan teologi yang menempa jiwa dan pikiran mereka memahami hakikat manusia hidup di dunia. Humaniora sejatinya membimbing manusia menjadi reflektif dalam menyelami nilai-nilai kemanusiaannya.

Realitas di Indonesia

Di Indonesia model "pendidikan yang memanusiakan manusia" pernah ADA PADA MASA HINDIA BELANDA. SISWA-SISWA AMS (ALGEMENE MIDDELBARE SCHOOL, SETINGKAT SMU) HINDIA BELANDA DIWAJIBKAN MEMBACA KARYA-KARYA SASTRA SEBANYAK BELASAN HINGGA 20-AN JUDUL SELAMA MASA STUDINYA. TIDAK HERAN JIKA GENERASI SAAT ITU DENGAN SEGALA PROFESINYA BEGITU TEGUH DALAM MENGEMBAN NILAI-NILAI KEMANUSIAAN.

Para dokter, seperti Wahidin Sudirohusodo, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Soetomo menjadi tabib bagi saudara-saudara sebangsanya yang ditindas oleh rezim kolonial. Ada pula Hatta, ekonom yang rakus membaca buku itu, yang merumuskan pembentukan koperasi sebagai sokoguru ekonomi bangsa.

Generasi selepas mereka tak kalah hebatnya. Taruh saja Yap Thiam Hien "sang pendekar keadilan" dari bidang hukum yang memilih berjuang membela kaum tertindas dan minoritas. Atau YB Mangunwijaya, arsitek cum sastrawan yang mendedikasikan hidupnya mendidik anak-anak melalui metode "pendidikan yang memanusiakan manusia" itu.

Dari mereka kita bisa menangkap makna penting nilai-nilai kemanusiaan yang perlu dirawat untuk Indonesia masa sekarang. Maka, posisi humaniora perlu benar-benar diperhatikan urgensinya dengan mengembangkan orientasi keilmuan di universitas secara lintas disiplin.

Bayangkan, betapa bahagia jika kita punya dokter-dokter yang meresapi secara tulus filosofi sumpah Hipokrates yang pernah diucapnya. Pun para ahli hukum belajar meneladani kisah-kisah para penegak keadilan dalam memihak kaum tertindas. Andai para dokter dan aparat hukum membaca tetralogi Pramoedya Ananta Toer, lalu meresapinya, barangkali masyarakat bakal menyanjung mereka sebagai "pahlawan kehidupan".   

Indonesia dan juga dunia sekarang ini memerlukan generasi yang punya sense of humanities. Generasi inilah yang diharapkan dapat memutus generasi yang krisis rasa kemanusiaannya seperti: tenaga medis yang hanya pamrih menyembuhkan orang- orang berduit; hakim yang memenangkan para pengusaha perusak lingkungan; politisi dan anggota dewan yang korup; serta pejabat negara yang tidak melindungi hak-hak kaum minoritas dan tertindas.

Itulah sebabnya spirit humaniora harus terus bernyala, jangan dibiarkan menuju senjakala.

FADLY RAHMANSEJARAWAN; ALUMNUS PASCASARJANA SEJARAH UGM

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 14 Maret 2016, di halaman 7 dengan judul "Senjakala Humaniora".


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Wednesday, March 02, 2016

Filosofi AHOK (petikan kata-kata AHOK)

Inilah Beberapa PETIKAN KATA KATA Pak Ahok 
yang selalu Membangunkan TIDURKU 
dan Juga Mungkin Tidurmu ....

# Gw memang Cina...
Tapi Gw dilahirkan dan dibesarkan di indonesia..
APA SALAH kalo gw  ingin membangun Indonesia 
BERSIH dari SISTEM KORUP ?

# Ingat saja pepatah Tiongkok,
'sebelum bunyi empat paku di atas peti mati kamu, 
kamu tidak bisa Nilai orang lain itu baik atau buruk', 
nanti kamu baru tahu .....
apa yang saya kerjakan.

# Kalaupun Gua Harus Mati Memperjuangkan Kepentingan Orang Banyak,
Loe Kagak Bisa BELI CARA MATI " Gua Bosss....

# Saya bilang ke istri..APAPUN yang TERJADI , 
Kamu jangan Pernah MENYALAHKAN TUHAN..
TUHAN Ngak Pernah Salah ..!
Jika saya nanti mati karna melawan korupsi ..
Tulis di Pusara saya :  MATI adalah KEUNTUNGAN 
Jika perlu pakai 3 bahasa...Indonesia , mandarin dan inggris
itupun kalau MAYAT SAYA KETEMU !

# jika KEPALANYA LURUS
maka yang dibawahnya TIDAK BERANI untuk tidak lurus

# Bedanya kami melakukan pendidikan politik untuk menyadarkan rakyat untuk memilih (pemimpin yang Bersih, Transparan dan Profesional) 
bukan memilih karena diberi baju kaos atau uang.

# Yang dibutuhkan (calon pemimpin) BUKAN suara rakyat saja,
 tetapi bagaimana mendapatkan Hati rakyat
Terus mencari dan memotivasi pemuda-pemuda idealis, 
terdidik dan mampu secara ekonomi untuk tidak apatis

# ...Bukan sebaliknya mengatas namakan Tuhan
 tetapi menikmati hidup atas penderitaan rakyat miskin

#  anda Tak perlu harus angkat senjata atau menyabung nyawa 
seperti pejuang kemerdekaan kita dulu ..
CUKUP jangan korupsi saja , itu sudah menolong negara .

# "Karena orang miskin akan terus ada. 
Sampai kiamat pasti ada orang yang kurang beruntung.
Tidak selamanya Orang Miskin Dilupakan
Untuk itulah Pemerintah seharusnya ada .

# Kita semua ini MUNAFIK ..
CURI Uang Rakyat dikatakan TIDAK DOSA..
Main Cewek diam diam dikatakan Tidak dosa

# Jika sistem demokrasi  kita engak pilih Orang baik..
maka orang TIDAK BAIK yang Berkuasa 

# Saya sudah MUAK dengan semua kemunafikan itu ..
setiap hari HARUS DENGAR Keluhan Warga.
seakan akan selama ini Negara Tak Pernah ada ...

# Jangankan dipanggil Angket ..
dipanggil TUHAN Saja , Kita udah siap Koq...
Kita TAU resiko MELAWAN ARUS direpublik ini ..

# Kalau KPK sampai menersangkakan saya 
dengan alasan tidak jelas, 
berarti TAKDIR SAYA  juga melawan oknum KPK. 
Top banget, republik ini saya lawan semua

# Saya akan Berhenti Jadi Pemimpin ,
 jika semua pejabat berkelakuan Baik

# Bicara Saya memang Kasar..
TAPI saya Takkan Pernah mencuri Uang Rakyat .

# "Haknya rakyat dibajak sekelompok politisi. 
Sekelompok orang yang merasa mewakili rakyat." 

#  Saat ini banyak kepala daerah yang tidak memikirkan rakyat. 
Kepala daerah yang dipilih DPRD hanya berkonsentrasi bagaimana caranya agar anggota dewan senang... 
Agar pertanggungjawabannya dapat diterima 
dan menjaga posisinya tetap aman.

# "Yang namanya bupati, wali kota dan gubernur itu
 enggak pernah ngurusin rakyat....
 Dia cuma mikirin ngurusin DPRD , Karena kan
 yang milih dia balik ke DPRD. 
Jadinya DPRD jadi raja. 
Karena itu rakyat memberontak, 
lagi pula kita enggak merasa diwakilin DPRD kok,

# Saya SIAP Pasang badan...
Saya SIAP MATI demi membela kepentingan masyarakat Jakarta.
Jika ada yang macam macam , SAYA yang HADAPI !

(beredar di WA)
Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.